Selasa, 20 April 2010

Makanan Khas Rejang Lebong

Profil Suku Rejang

Suku Rejang adalah salah satu suku tertua di pulau Sumatra selain suku bangsa Melayu.Suku Rejang menempati daerah Lebong,Rejang Lebong,Kepahiang,Bengkulu Utara dan sebagian menyebar ke wilayah Sumatera Selatan.Bila kita lihat dari dialek bahasa yang dig

unakan, sangat jelas perbedaan antara bahasa Melayu dan bahasa daerah di Sumatra lainnya dengan bahasa Rejang. Suku Rejang menempati Bengkulu Utara, Lebong dan di kabupaten Rejang Lebong.Suku ini merupakan terbesar di provinsi Bengkulu Jika mengacu pada sistem kelembagaan lokal atau local community masyarakat adat yang ada di Kabupaten Lebong adalah komunitas kampung yang di sebut dengan dengan istilah lokal Kutai atau Dusun yang b erdiri sendiri yang merupakan kesatuan kekeluargaan yang timbul dari sistem unilateral deng an sistem garis keturunan yang patrilineal dan dengan cara perkawinan yang eksogami, aplikasi sistem lokal ini kemudian di terjemahkan dengan sistem kelembagaan Marga, sebuah sistem adopsi dari sistem pemerintahan Kesultanan Pelembang. Ada beberapa k esatuan kekeluargaan yang relatif masih tegas asal usul, wilayah tata aturan lokal di Kabupaten Lebong masing-masing kekeluargaan tersebut kemudian di sebut dengan Marga. John Marsden, Residen Inggris di Lais (1775-1779) menceritakan tentang adanya empat Petulai Rejang diantaranya Jekalang (Joorcalang), Selupuak (Selopoo), Manai (Beremani), Tubey (Tubay) di sisi lai n Dr. J.W. Van Royen dalam Laporannya “adat-Federatie in de Residentie’s Bengkoelen en Palembang” menyat akan bahwa Marga-Marga tersebut merupakan kesatuan

Lema Makanan Khas Suku Rejang



Lema adalah sebuah nama makanan khas Rejang. Komposisinya terd iri dari rebung yang dicincan g-cincang dan dicampur ikan air tawar seperti ikan mujair, sepa t, m a upun ikan-ikan kecil yang hidup di air tawa r. Setelah cincangan rebung yang dicampur dengan ikan ters ebut diaduk-aduk, maka adonan tersebut disimpan ke dalam wadah yang dila pisi dengan daun pisang d an ditutup rapat-rapat. Proses pengeraman ini bisanya minimal membutuhkan waktu tiga hari. Setelah itu, baru ado nan tadi dapat dijadikan gulai sebagai lau k yang dimakan dengan nasi.


Lema itu sendiri dimasak dengan cara yang tid ak berbeda dengan tempoyak. Lema beraroma agak tidak sedap baunya. Itu merupakan efek dari pembusukan dari ikan yang d icampur dengan rebung. Meskipun baunya yang tidak sedap, tapi banyak yang menyukainya. Keunikan dari aroma dan cita rasa yang dihasilkan lema, menjadikan makanan ini bukan sekedar disukai suku bangsa Rejan g. Lema lebih nikmat bila dimasak dengan campuran santan dan ditambahkan deng an ikan air tawar maupun ikan laut. Pada umumnya, lema dimasak dengan ditambah dengan ikan mas, tongkol, maupun ikan yang biasa dikonsumsi manusia pad a umumnya. Mengenai cita rasa yang dihasilka n lema, makanan ini termasuk dari selera kh as Sumatera. Le ma memiliki rasa asam dan pedas, serta aroma yang unik tapi gurih setelah dimasak. Setelah masak,

lema biasanya dimakan sebagai lauk. Lema lebih nikmat dimakan dengan ditemani lalapan seperti kabau, jering, atau petai.

Lema j uga telah menjadi komoditi ekspor ke Jepang, meskipun banyak juga suku bangsa Rejang yang tidak mengetahui hal itu. Lema dikemas secara modern ke dalam kaleng. Kemasannya tidak berbeda dengan kemasan kornet ataupun sarden yang biasa dijual di warung maupu n toko-toko manisan modern lainnya. Lema telah dijadikan makanan pengganti dari tra d

isi orang Jepang yang biasa memakan ikan mentah yang telah terbukti penyebab penyakit Mina mata di Jepang. Rasa lema yang sesuai dengan selera Jepang, menjadikan lema makanan favorit yang dikenal secara internasional di Jepang. Mengenai asal-usul lema, secara kentara tidak dipublikasikan bahwa makanan tersebut asal mulanya dari karya salah satu suku ba ngsa di Indonesia.

SELAMAT MENCOBA MASAKAN INI FRIENDS

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar